Wednesday, January 11, 2012

Bencana-bencana alam besar tahun 2010

Bencana-bencana alam besar tahun 2010
Surahyo/Fotokita.net
 
Dari Haiti ke  Merapi, inilah bencana-bencana alam yang menarik perhatian dunia sepanjang tahun 2010.

Tahun 2010 baru berjalan 12 hari ketika gempa bumi memorakporandakan Port-au-Prince, Haiti. Gempa tersebut mengakibatkan 200 ribu orang meninggal dan 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal. Setelah gempa, ilmuwan mendapati patahan baru yang belum pernah terpetakan. Gempa bumi meningkatkan tegangan pada patahan sehingga berpotensi untuk mengakibatkan gempa besar.

Pada 27 Februari, Chili dilanda gempa. Dengan kekuatan 8,8 Skala Richter itu mengubah lanskap dengan menaikkan daratan sekitar 2,4 meter di daerah pesisir. Menurut laporan tanggal 15 Mei 2010, jumlah korban mencapai 521 orang dan 56 dinyatakan hilang.

Di bulan April, gunung api Eyjafjallajökull meletus. Kabut asapnya menutupi hampir seluruh Eropa, membuat matahari berwarna merah di waktu tenggelam. Bubungan asapnya mengandung listrik, bahkan bisa menghasilkan petir.

Gempa di Selandia Baru, tepatnya di Christchurch, menyebabkan kerugian jutaan dolar. Gempa yang terjadi pada bulan September ini membuat kota berpenghuni 400 ribu orang tersebut porak poranda. Usaha pemulihan terhalangi lagi oleh gempa susulan yang cukup besar.

 Topan tropis terbesar juga tercatat pada tahun ini. Topan Megi yang terjadi di Filipina pada bulan Oktober termasuk kategori 5, kategori topan paling berbahaya.

Bencana gempa yang diikuti tsunami di Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober juga jadi salah satu bencana tersebesar tahun ini. Tsunami yang gelombangnya mencapai 3 meter itu membuat 113 orang terbunuh.

Satu hari setelah bencana gempa dan tsunami di Mentawai, Gunung Merapi erupsi, mengakibatkan 400 ribu orang mengungsi dan 350 orang meninggal dunia.

Tahun 2010 juga merupakan salah satu musim hurikan paling ramai di kawasan Atlantik. tahun ini, tercatat ada 19 badai. Di Pasifik, badai tidak seramai Atlantik. Tercatat, ada 13 badai sampai saat ini. Musim badai di Pasifik masih berlangsung dengan Topan Megi sebagai badai terbesar.

Beberapa tornado juga terjadi di beberapa daerah yang sebetulnya jarang terlanda. Di New York, tornado memutuskan jaringan listrik dan menumbangkan pepohonan. Tornado di Caledonia, Illinois, menjungkalkan bus sekolah, mencederai sopir dan beberapa anak sekolah.

Bencana Alam Akibat Perubahan Iklim

Peningkatan aktivitas gempa bumi berhubungan dengan pemanasan global
Dr. Tom Chalko, kepala geofisika di Peneliti Teknik Ilmu Pengetahuan Austria telah mencatat peningkatan aktivitas gempa bumi yang saat ini lebih besar lima kali daripada dua puluh tahun lalu. Dengan mengutip data NASA dimana es di Bumi saat ini menyerap lebih banyak energi panas dari Matahari daripada radiasi yang dibalikkan ke angkasa, Dr. Chalko menyatakan, “Ketidakseimbangan panas ini telah menciptakan panas di dalam perut bumi tidak dapat keluar sehingga perut bumi terlalu panas. Peningkatan aktivitas gerakan seismik, tektonik, dan vulkanik adalah akibat yang tak terabaikan dari panas yang terperangkap akibat ketidakseimbangan.” Dr. Chalko sedang mendesak komunitas ilmuwan internasional untuk membagikan info ini dengan publik dan berkata, “Konsekuensi dari kelambanan kita akan menjadi malapetaka. Tidak ada waktu untuk gerakan setenga-setengah.”
Badan AS Membenarkan Pola Cuaca yang Esktrim Akibat Perubahan Iklim
Menurut sebuah laporan dari Program Ilmu Pengetahuan Perubahan Iklim AS yang disusun oleh banyak badan pemerintah, pemanasan global akan menyebabkan kondisi cuaca menjadi semakin parah, dengan kekeringan dan banjir yang meningkat baik dalam tingkat keparahan maupun lamanya. Laporan itu juga meramalkan frekuensi terjadinya keesktriman ini menjadi semakin cepat, dan memberi peringatan bahwa tindakan pencegahan harus memperhitungkan kecenderungan perubahan iklim agar efektif melindungi masa depan.
 
 Perubahan Iklim Menjadi Latar Belakang Bencana Alam Seperti Banjir di Midwest
Kerusakan karena badai dan banjir yang terjadi baru-baru ini di negara-negara bagian midwest di Wisconsin, Illinois, Indiana, dan Iowa dikaitkan dengan pemanasan global. Perry Beeman, wartawan pemenang penghargaan untuk The Des Moines Register di Iowa, mengatakan bahwa sebelum badai terjadi, ia dan rekan-rekannya telah mengembangkan serial perubahan iklim untuk diterbitkan di koran tersebut dan meramalkan dampak-dampak ini.
Zambia Menghadapi Perubahan Iklim
Dalam sebuah seminar di Lusaka, Wakil Menteri Pariwisata dan Sumber Daya Alam Zambia, Todd Chilembo berbicara tentang banjir di negaranya baru-baru ini merupakan contoh dari dampak pemanasan global dan berkata bahwa akan butuh waktu lama untuk pulih kembali. Bpk. Aeneas Chuma, wakil Zambia untuk Program Pembangunan PBB juga mengutip laporan
Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim yang menegaskan bahwa 95% perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia. Wakil Menteri Chilembo menyatakan bahwa kementeriannya
ikut serta dalam Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM), sebuah langkah yg berkaitan dengan Protokol Kyoto yang memungkinkan negara-negara maju menanamkan modal dalam proyek-proyek pengurangan emisi di Zambia.

Topan Nargis adalah Indikasi dari Perubahan Iklim
Menurut Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan (CSE), Topan Nargis yang merusak Myanmar dan memakan korban sangat banyak ini sepertinya merupakan dampak dari dari perubahan iklim. Dengan mengutip laporan perubahan iklim PBB, Direktur CSE, Sunita Narain, berkata, “Nargis adalah satu tanda akan datangnya hal-hal lain. Di tahun 2007, Bangladesh dihancurkan oleh topan tropis Sidr. Korban dari topan ini adalah korban perubahan iklim.” Narain menyerukan negara-negara kaya agar lebih bergegas mengatasi emisi gas rumah kaca mereka untuk membantu mengurangi pengaruh hebat dari pola cuaca yang tidak stabil bagi negara-negara yang pertaniannya tergantung pada hujan.